• SMK NEGERI 4 BANGLI
  • Dengan Kompetensi Seni dan Pariwisata Kita Ciptakan SDM Yang Handal

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI merupakan strategi pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang beraneka ragam. Pembelajaran berdiferensiasi diawali dengan melakukan observasi atau asessmen awal untuk melihat gambaran karakteristik murid seperti gaya belajar atau kemampuan pemahamannya. Pembelajaran ini dilakukan dengan mempertimbangkan tiga aspek utama, yaitu:

  1. Kesiapan belajar, yaitu tingkat pemahaman murid terhadap materi yang akan dipelajari.
  2. Minat, yaitu hal-hal yang menarik dan disenangi oleh murid.
  3. Profil belajar, yaitu cara belajar murid yang paling efektif.

Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, proses penilaian memegang peranan yang sangat penting. Guru diharapkan memiliki pemahaman yang berkembang secara terus menerus tentang kemajuan akademik murid-muridnya agar ia bisa merencanakan pembelajaran sesuai dengan kemajuan tersebut.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang beragam karena pembelajaran ini dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan individual murid. Dengan demikian, murid dapat belajar dengan cara yang paling efektif  bagi mereka dan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Berikut ini 3 jenis strategi pembelajaran diferensiasi yang dapat digunakan meiliputi :

Diferensiasi konten, mengacu pada strategi guru dalam membedakan proses pembagian dan format penyampaian konten. Dalam hal ini, konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari oleh siswa berdasarkan kurikulum.

Contoh strategi diferensiasi konten:

  1. Memberikan pilihan materi pembelajaran: Contohnya, untuk materi Teknologi Informasi dan Komunikasi, guru dapat memberikan pilihan untuk mempelajari tentang Search Engine, Aplikasi pengolah kata, Aplikasi pengolah angka, atau Aplikasi presentasi.
  2. Menyesuaikan tingkat kesulitan materi: Contohnya, untuk materi tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi diberikan secara menyeluruh, guru dapat memberikan pilihan untuk mempelajari tentang pemahaman mulai dari level 1 sampai pada level 5, dengan masing-masing level memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.
  3. Menggunakan sumber belajar yang beragam: Contohnya, untuk materi tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi, guru dapat menggunakan buku teks, video, atau situs web.

Diferensiasi proses mengacu pada strategi guru dalam memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dengan cara yang berbeda.

Contoh strategi diferensiasi proses:

  1. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran: Contohnya, untuk materi tentang menulis puisi, guru dapat memberikan pilihan untuk menulis puisi bebas, puisi naratif, atau puisi lirik.
  2. Memberikan kesempatan siswa untuk bekerja secara mandiri atau berkelompok sesuai dengan gaya belajar mereka.
  3. Menyediakan bantuan dan bimbingan yang berbeda: Contonya, guru dapat memberikan bimbingan individual kepada siswa yang kesulitan memahami materi

Diferensiasi produk mengacu pada strategi guru dalam memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan pemahaman mereka dengan cara yang berbeda.

Contoh strategi diferensiasi produk:

  1. Memberikan pilihan produk pembelajaran: Contohnya, untuk materi tentang sejarah Indonesia, guru dapat memberikan pilihan untuk membuat poster, presentasi, atau video.
  2. Memberikan kesempatan siswa untuk memilih format produk: Contohnya, untuk materi tentang matematika, guru dapat memberikan pilihan untuk membuat laporan, presentasi, atau proyek.
  3. Penerapan strategi pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu guru untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam. Dengan demikian, semua siswa dapat belajar secara efektif dan mencapai hasil belajar yang optimal.

 

Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, proses penilaian memegang peranan yang sangat penting. Guru diharapkan memiliki pemahaman yang berkembang secara terus menerus tentang kemajuan akademik murid-muridnya agar ia bisa merencanakan pembelajaran sesuai dengan kemajuan tersebut.

Menurut Tomlinson  &  Moon  (2013:  18)  penilaian  adalah  proses mengumpulkan,  mensintesis,  dan  menafsirkan  informasi  di  kelas  untuk  tujuan membantu pengambilan keputusan guru. Ini mencakup berbagai informasi yang membantu  guru  untuk  memahami  murid  mereka,  memantau  proses  belajar mengajar, dan membangun komunitas kelas yang efektif.

Di dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3 perspektif:

  1. Assessment for learning - Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses  pembelajaran  dan  biasanya  digunakan  sebagai  dasar  untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif.  Sering  disebut  sebagai  penilaian  yang  berkelanjutan  (ongoing assessment)
  2. Assessment of  learning  -  Penilaian  yang  dilaksanakan  setelah  proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif
  3. Assessment as learning - Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan murid-murid  secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian formatif.

 

Hubungan keterkaitan antara materi pembelajaran berdiferensiasi dengan modul-modul sebelumnya yang telah dipelajari pada Pendidikan Guru Penggerak yakni:

Filosofi pendidikan nasional

Modul 1.1 membahas tentang filosofi pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Dalam filosofi tersebut, Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berdiferensiasi, yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik yang beragam.

Nilai dan peran guru penggerak

Modul 1.2 membahas tentang nilai dan peran guru penggerak. Nilai-nilai guru penggerak, yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid, mendukung penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Guru yang memiliki nilai-nilai tersebut akan lebih mampu memahami kebutuhan belajar peserta didik dan menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Visi guru penggerak

Modul 1.3 membahas tentang visi guru penggerak. Visi guru penggerak adalah mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid dan menciptakan perubahan positif di sekolah. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mewujudkan visi tersebut.

Budaya positif

Modul 1.4 membahas tentang budaya positif. Budaya positif di sekolah dapat mendukung penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Peserta didik yang merasa nyaman dan dihargai akan lebih termotivasi untuk belajar.

Pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan dukungan dari seluruh warga sekolah, termasuk peserta didik. Dengan budaya positif di sekolah, peserta didik akan merasa nyaman dan dihargai, sehingga mereka akan lebih terbuka untuk menerima pembelajaran berdiferensiasi.***

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD) bahwa pendidik adalah penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai kese

15/11/2023 21:59 - Oleh I Nyoman Suarka - Dilihat 577 kali